Jumat, 20 Januari 2017

Rasulullah SAW Sang Pemaaf

MAAFNYA RASULULLAH SAW, MAMPU MEMBUAT MUSUH YANG AKAN MEMBUNUHNYA, BERAKHIR MENJADI SAUDARA. 

http://8tausyiah.blogspot.com/2017/01/rasulullah-saw-sang-pemaaf.html
Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Saw. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah memasuki ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. 

Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. menghadangnya yang melihat gelagat buruk penampilan orang tersebut. 

Umar bertanya, : 
  • “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?” 
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, 
  • “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”. 
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar sukses merampas senjatanya dan mengikat tangannya setelah itu dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di satu tiang masjid, Umar melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah Saw. 
Rasulullah Saw keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah, setelah itu berkata kepada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?” 
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tak percaya dengan apa yang didengar dari Rasulullah.

Maka Umar memberanikan diri bertanya, 

“Apa yang Engkau maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang kesini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!”

Namun Rasulullah tak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”.

Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa-llah (Tiada Tuhan selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tak akan mengucapkannya!”

Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tak akan mengucapkannya!”

Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu aja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu, akan tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. akan tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan engkau Muhammad..yaitu Rasul Allah“.

http://8tausyiah.blogspot.com/2017/01/rasulullah-saw-sang-pemaaf.html

Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tak mengucapkannya saat aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tak mengucapkannya saat masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin.”

Di suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “saat aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. akan tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.” Salam ’alaika ya Rasulullah…… “Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung.

Dan berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah membagikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha agung”.

والله اعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar